Showing posts with label PERTANIAN dan BUDIDAYA. Show all posts
Showing posts with label PERTANIAN dan BUDIDAYA. Show all posts

Friday, August 12

cara budidaya tanaman vanili

PENDAHULUAN
Tanaman panili atau si Emas Hijau merupakan komoditi yang menjanjikan. Namun tidak semua panili berharga “emas”, hanya kualitas terbaiklah yang diberikan harga istimewa.
SYARAT PERTUMBUHAN
Panili dapat hidup di iklim tropis, curah hujan 1000-3000 mm/tahun, cahaya matahari + 30%-50%, suhu udara optimal 200C-250C, kelembaban udara sekitar 60%-80%, ketinggian tempat 300-800 m dpl. Tanah gembur, ringan yaitu tipe tanah lempung berpasir (sandy loam) dan lempung berpasir kerikil (gravelly sandy loam), mudah menyerap air, pH tanah + 5,7 – 7.
PEMBIBITAN
1. Seleksi Bibit
- Jenis panili bernilai ekonomi yaitu Vanilla planifolia Andrews, Vanilla tahitensis JW. Moore, Vanilla pompana
- Syarat bibit generatif : tulen, punya sifat yang hampir sama dengan induknya; murni, biji tidak tercampur dengan yang berkualitas jelek; biji dalam kondisi segar dan sehat; bibit vegetatif : tanaman induk sehat dan cukup umur, sudah mengeluarkan sulur dahan yang kuat, tanaman induk belum atau jangan sampai berbuah.
2. Penyiapan Bibit
- Bibit generatif berasal dari biji yang unggul.
- Bibit Vegetatif dengan stek, mempercepat perakaran stek dapat direndam HORMONIK (1-2 cc/liter) kemudian dibiarkan agak layu baru ditanam dan disiram POC NASA (2-3 ttp) + HORMONIK ( 1 ttp) per 10 liter air.
- Kulture Jaringan.
3. Teknik Penyemaian Benih
Bibit disemai dalam tanah berpasir supaya akar mudah tumbuh. Tempat penyemaian harus teduh.
4. Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian
Penyiraman setiap hari, tidak boleh terlalu basah. Bibit yang jelek disingkirkan. Setiap seminggu sekali semprot dengan POC NASA (2-3 tutup) + HORMONIK ( 1 tutup) per tangki (14-17 liter).
5. Pemindahan Bibit
Pemindahan bibit ke lapangan tergantung asal bibit, yaitu bibit stek sekitar umur 1-2 bulan, bibit biji waktunya lama.
PENGOLAHAN MEDIA TANAM
- Pengolahan lahan dikerjakan pada pertengahan musim kemarau supaya pohon pelindung dapat ditanam, cek kondisi tanah.
- Bersihkan lahan dari gulma dan dibajak.
- Buat jalur bedengan, lebar 80-120 cm dan lebar parit 30-50 cm.
- Lakukan pengapuran bila kondisi tanah terlalu asam.
PENANAMAN
- Penanaman di tengah bedengan, pola tanam monokultur.
- Buat lubang tanam dekat tanaman penegak berukuran panjang, lebar dan dalam antara 20x15x10 cm, 25x20x12 cm dan 30x25x15 cm.
- Tanam stek dengan cara memasukkan 3 ruas seluruhnya ke dalam lubang secara mendatar agar akar tumbuh cepat dan sempurna
- Tutup dengan tanah galian yang dicampur dengan pupuk kandang.
- Stek bibit bagian atas yang tidak terbenam dalam tanah diikat pada pohon panjatan dengan ikatan longgar.
- Waktu tanam stek bibit yang baik pada awal musim hujan. Sedangkan stek yang akan ditanam sebaiknya dibiarkan / dilayukan terlebih dahulu selama 4 – 7 hari dan pangkal stek bibit direndam dalam POC NASA / HORMONIK (1-2 cc/liter) + Natural GLIO untuk menghindari pembusukan.
Pengadaan Bibit Vanilla

PEMELIHARAAN TANAMAN
1. Penyulaman 
Lakukan pengecekan setelah umur 2-3 minggu setelah tanam, apabila ada stek yang tumbuh kurang baik, segera disulam.
2. Penyiangan dan Pembubunan
Penyiangan dilakukan sebulan sekali sesudah penanaman sampai pertumbuhan panili tidak kerdil dan terlambat. Pembubunan bersamaan dengan penyiangan untuk menjaga bedengan tetap rapi dan tanah tetap gembur agar air mudah terserap.
3. Perempelan 
- Perempelan bentuk, memotong 15 cm dari tanaman yang dilengkungkan dan sisakan 3 cabang terbaik untuk dipelihara agar terbentuk kerangka tanaman kuat dan seimbang.
- Perempelan produksi, memotong pucuk sepanjang 10-15 cm menjelang musim berbunga dan saat berbuah untuk merangsang pertumbuhan generatif terutama pertumbuhan bunga dan buah.
- Perempelan peremajaan, memotong cabang-cabang yang sudah pernah berbuah dan cabang-cabang yang sakit.
4. Pemupukan
- Tebar pupuk makro di sekitar pohon dan timbun dengan tanah karena sistem perakaran panili cukup dangkal. Kebutuhan pupuk makro per ha per tahun adalah Urea 8 kg, TSP 4 kg, KCl 14 kg, CaCO3 5 – 10 kg, MgSO4 H2O 2,5 – 5 kg/ha/tahun dan pupuk kandang 10-20 kg/pohon/tahun.
- Pemupukan diberikan setahun sekali. Akan lebih baik jika dikocor dengan SUPER NASA dosis + 0,5 sdm / 5 lt air per pohon setiap 3 bulan sekali dan penyemprotan POC NASA dosis 4-5 tutup/tangki setiap 2 – 4 minggu sekali atau POC NASA (3-4 tutup) + HORMONIK (1 tutup) per tangki setiap 2-4 minggu sekali.
5. Pengairan dan Penyiraman
Tanaman panili tidak tahan terhadap kekeringan sehingga pada musim kemarau perlu disiram secukupnya untuk merangsang pertumbuhan tanaman, perkembangan bunga serta buah.
6. Pemberian Mulsa & Pendangiran
Pemberian mulsa dapat dilakukan bersamaan dengan penyiangan dan pendangiran. Bahan mulsa dari hasil pemangkasan pohon pelindung, tetapi bisa juga serbuk gergaji yang diletakkan di atas permukaan tanah dekat pohon panili.
7. Perambatan
Sistem pagar sulur-sulur, tanaman panili dibiarkan menjalar pada pagar yang telah dipasang secara horisontal. Pagar tempat menjalarnya panili dapat dibuat dari bambu yang diikatkan pada pohon yang satu dengan pohon yang lain.
Sistem perambatan penunjang tunggal, tanaman panili dirambatkan lurus ke atas pada naungannya.
8. Pemangkasan Pohon Pelindung 
Pohon pelindung dapat digunakan Glyricidia maculate, lamtoro dan dadap. Pemangkasan cabang dilakukan untuk mempertahankan agar tetap teduh, mempermudah sistem sirkulasi dan mengatur intensitas sinar matahari.
9. Pembungaan dan Penyerbukan 
Panili berbunga setelah berumur 1,5-3 tahun, bunga yang muncul berupa dompolan dan akan mekar satu bunga secara bergantian. Mekarnya bunga hanya berlangsung 12 jam, yaitu mulai pukul 24:00 sampai menjelang tengah hari, sesudah itu bunga mulai layu dan mati. Oleh karena itu penyerbukan bunga dilakukan sekitar pukul 08:00 sampai 10:00. Penyerbukan buatan pada prinsipnya adalah mengangkat/memotong bibir yang membatasi kepala sari dan kepala putik, kemudian benang sari ditekan ke kepala putik untuk dilakukan penyerbukan. Seminggu setelah penyerbukan semprot dengan dosis POC NASA (3-4 tutup) dan HORMONIK (1 tutup) per tangki setiap 2-3 minggu sekali.
PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT
a. Hama
1. Bekicot 
Menyerang dan merusak batang, bunga dan buah. Aktifitasnya dilakukan pada malam hari. Pengendalian: secara manual dengan mengambil dan mengumpulkan bekicot satu persatu kemudian dibakar sekaligus dalam satu lubang.
2. Belalang pedang
Merusak/memakan daun muda dan batang panili. Pengendalian: menyemprotkan PESTONA atau Natural BVR
3. Penggerek batang
Larva hama ini merusak/menggerek batang tanaman panili yang menyebabkan tanaman panili lambat laun layu dan mati. Pengendalian penyemprotan PESTONA
4. Ulat bulu jambul dan ulat geni
Merusak bagian pucuk, daun, batang dan bunga. Pengendalian: penyemprotan PESTONA
b. Penyakit1. Busuk akar
Gejala: akar hitam, tanaman menjadi kecoklat-coklatan dan akhirnya mati; biasanya terjadi pada saat produksi tertinggi pertama kali tercapai. Pengendalian: menjaga kesuburan tanah dengan pemupukan, pemberian kapur secukupnya, dan mengatur kelembaban , pencegahan diawal dengan Natural GLIO.
2. Busuk batang
Penyebab: jamur Fusarium batatatis. Gejala: pada batang terjadi bercak-bercak berwarna hitam yang akan meluas dan melingkar dengan cepat. Batang terserang akan keriput, berwarna coklat dan akhirnya kering. Pengendalian: mengurangi kelembaban dan drainase yang baik, saat stek akan ditanam dicelup dalam POC NASA + Natural GLIO.
3. Busuk buah
Ditemukan pada buah panili muda. Gejala: muncul bila menyerang pangkal buah muda sehingga banyak buah yang berguguran dan bila menyerang tengah buah akan hitam, kering selanjutnya mati. Pengendalian: penyemprotan Natural GLIO + gula pasir dosis 1-2 sendok teh per 10 liter air.
4. Busuk pangkal batang
Penyebab: Jamur Sclerotium sp. Gejala: pangkal batang tampak berwarna coklat dan kebasah-basahan, bagian tanaman yang diserang dan tanah sekitar terdapat misellium jamur berwarna putih seperti bulu dengan banyak sclerotium warna coklat. Pengendalian: gunakan bibit bebas busuk pangkal batang, penyemprotan Natural GLIO + gula pasir.
5. Bercak coklat pada buah
Penyebab: oleh cendawan Phytophthora sp. dan menyerang buah panili yang hampir masak. Gejala: bercak-bercak coklat tua dan akhirnya busuk. Pengendalian: (1) segera petik buah terserang kemudian membakarnya; (2) penyemprotan dengan Natural GLIO dosis 1-2 sendok/10 liter air.
6. Bercak coklat pada batang
Penyebab: cendawan Nectria vanilla, zimm. Gejala: batang tampak bercak coklat yang lama-kelamaan menghitam dan melingkar ruas dan mati. Pengendalian: potong dan bakar batang yang terserang.
7. Antraknosa
Penyebab: jamur Calospora vanillae, Mass. Gejala: batang, daun, buah berwarna coklat muda kekuningan tampak licin dan terlihat jelas bagian terserang dan tidak. Pengendalian: Potong dan bakar bagian terserang, atur kelembaban dan drainase.
8. Karat merah
Penyebab: Ganggang Cephaleuros heningsii, Schm. Gejala: bercak pada daun dan terus meluas hingga daun kering selanjutnya mati. Pengendalian: Singkirkan bagian terserang dan atur kelembaban kebun dengan pemangkasan pohon pelindung.
9. Penyakit pascapanen
Penyebab penyakit yang menyerang panili setelah dipanen : jamur Aspergillus, Penicillium, Rhizopus, sp dan Sclerotium, sp. Pengendalian: penanganan pasca panen yang baik.
Catatan : Jika Pengendalian hama dan penyakit dengan pestisida alami belum dapat mengatasi, dapat digunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dn tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810 dosis 1-2 tutup/tangki.
E. PANEN DAN PASCA PANEN
- Pemetikan pada umur 240 hari (8 bulan) akan menghasilkan panili kering dengan kadar vanillin yang tinggi, kadar abu terendah, rendemen tertinggi dan kadar air yang aman
- Ciri-ciri panili siap dipanen yaitu warna berubah dari hijau tua mengkilap menjadi hijau muda suram dengan garis-garis kecil warna kuning yang lambat laun melebar sampai ujung buah
- Musim panen antara bulan Mei sampai Juli, sekitar 2 – 3 bulan
- Cara panen yang terbaik adalah memetik satu-persatu buah masak tanpa mengganggu buah lain dalam satu tandan yang masih mentah untuk menjaga mutu panili.
- Buah dikumpulkan dalam keranjang bambu dan dijaga agar buah tidak terluka atau cacat dan sortir berdasar ukuran, bentuk, tingkat kemasakan dan buah yang cacat >20 cm
- Lakukan pelayuan untuk menghentikan proses respirasi yang terjadi dalam buah, mematikan sel-sel buah panili tanpa mengurangi aktifitas dan kadar enzim dalam buah. Proses pelayuan dengan menggunakan alat perebus yang diisi air ¾ bagian dengan suhu antara 65-950 C
- Lakukan pemeraman dalam kotak khusus yang lengkap dengan tutup dan karung goni sebagai alasnya, utuk pembentukan aroma selama + 48 jam
- Lakukan pengeringan dengan cara dijemur di bawah sinar matahari, dioven dan diangin-anginkan untuk mengurangi kadar air hingga 25-30 %
- Tempatkan buah panili kering dalam kotak yang dalamnya telah dilapisi kertas koran/karung plastik tipis dan simpan pada suhu kamar, siap dikirim dan dijual. harganya pun menggiyurkan

Sumber :http://teknis-budidaya.blogspot.com

harga vanili menggiyurkan

PARA petani vanili di Desa Padasari, Kecamatan Tanjungkerta, Kabupaten Sumedang yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH) Bagja Jaya, boleh dibilang memiliki harapan ekonomi yang cukup cerah dari tanaman rambat yang dibudidayakannya itu. Betapa tidak. Di samping telah berhasil menumbuhkan serta meningkatkan jumlah produktivitas panen vanilinya, peluang pasar untuk vanili yang dihasilkan mereka pun, benar-benar terbuka lebar dengan penawaran harga yang cukup menggiurkan.


VANILI KERING
Produksi Buah Vanilla

Karena keberhasilan mereka pula, Gubernur Jawa Barat H. Danny Setiawan, akhir Desember baru lalu bersama rombongannya sempat meluangkan waktu, khusus meninjau ke kawasan kebun vanili kelompok tani tersebut. Melihat semangat para petani vanili di sana, dalam kunjungan yang disertai dialog dengan para petani itu, Danny Setiawan langsung menjanjikan Pemvrov Jabar akan menyiapkan dana Rp 50 juta khusus untuk pengembangan budi daya vanili di sekitar itu, dengan syarat petani vanili disana harus sudah tergabung dalam wadah koperasi berbadan hukum.
Mengenai kesuksesan dan harapan cerah dari budi daya vanili yang kini tengah dikembangkan oleh para petani yang bekerja sama dengan pihak Perhutani KPH Sumedang di sekitar desa tersebut, di antaranya tergambar dari penuturan Ketua KTH Bagja Jaya, Entis Sutisna dan beberapa anggotanya, yang saat itu langsung bertatap muka dan berdialog dengan Gubernur Jabar.
Entis Sutisnya yang selama ini melibatkan diri membudidayakan tanaman vanili bersama 24 anggota KTH tersebut, menuturkan dari setiap batang rumpun vanili anggotanya, dalam sekali panen rata-rata telah mampu menghasilkan 0,5 kilo gram (kg) vanili basah. Dan setiap anggota kelompoknya, kini rata-rata telah memiliki serta memelihara lebih kurang 200 batang rumpun vanili yang sebagian besar di antaranya dalam usia produktif.
Harga jualnya, demikian Entis, bagi dirinya serta para petani anggota kelompoknya juga terbilang menggiurkan. Diterangkannya, berdasarkan harga yang berlaku saat ini, harga vanili basah bisa mencapai Rp 500 ribu/kg, dan untuk vanili kering bisa mencapai Rp 1,2 juta hingga Rp 2 juta/kg. Disebutkan pula biasanya, dari 5 kg vanili basah bila dikeringkan akan menghasilkan 1 kg vanili kering.
“Biaya perawatan tanaman vanili dari mulai menanam sampai panen, memang tidak sedikit. Tapi jika dibandingkan dengan hasil penjualannya ternyata lebih besar untungnya,” ujar Entis, saat itu, lalu menyebutkan total biaya pemeliharaan per satu hektare tanaman vanili rata-rata mencapai Rp 5 juta.
DALAM pengembangan budidaya vanili pun, memang tidak semudah dan semulus apa yang telah digambarkan Entis Sutisna. Beberapa faktor yang bisa menghambat produktivitas hasil dari budidaya vanili itu pun, tak pelak membayangi para petaninya. Di antaranya, sifat tanaman vanili biasanya tidak bisa bertahan hidup dan produktif melebihi tiga kali panen.
Sehingga untuk menjaga dan mengembangkan produktivitas budi daya vanili ini benar-benar dibutuhkan perluasan lahan. Dan, ini bisa menjadi penghambat ketika lahan yang dimiliki petaninya sangat terbatas.
Namun, bagi para petani angota KTH budi daya vanili Sumedang yang ada di sekitar kawasan hutan lindung milik Perhutani KPH Sumedang wilayah BKPH Tampomas, termasuk mereka yang tergabung di KTH Bagja Jaya, hal itu sudah tak lagi menjadi kendala utama. Pasalnya, untuk pengembangan budi daya vanili di sekitar itu Perhutani KPH Sumedang telah menyediakan puluhan hektare kawasan hutan lindungnya untuk pengembangan budi daya vanili masyarakat sekitar dengan cara tumpangsari melalui pola Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM).
Kendala lain yang bisa menghambat produktivitas budi daya vanili, menurut Entis Sutisna dan para petani vanili anggota KTH-nya, mereka sering kali dihadapkan pada masalah kesulitan memberantas penyakit busuk pangkal yang sering menyerang dan mematikan tanaman vanili mereka. Untuk menanggulanginya, menurut Entis, KTHnya, kini tengah mencoba mengembangkan jamur prusarium yang bisa menjadi predator atau pembunh virus pembusuk batang vanili.
Mengenai budi daya tanaman vanili di lahan Perhutani BKPH Tampomas, yang melibatkan para petani di sekitarnya itu, menurut Administratur (Adm) Kepala KPH Perhutani Sumedang, Ir. Joko Sukrisno, areal tanaman tumpangsari jenis vanili di kawasan hutan lindung BKPH Tampomas luasnya sekarang sudah mencapai 30 ha lebih, yang mulai dibuka pihaknya melalui PHBM pada tahun 2001.
“Pada tahun 2001, kami mencoba dulu seluas lebih kurang 6 ha lokasinya di wilayah RPH Tanjungkerta, BKPH Tampomas. Tahun berikutnya, kami perluas lagi kurang lebih 8,5 ha. Dan karena produktivitasnya sangat bagus serta adanya peningkatan minat para petani di sana, tahun 2003 kami membuka lagi lahan untuk vanili seluas lebih kurang 20 ha di RPH Naluk, masih di bawahan BKPH Tampomas” papar Joko.
PENGEMBANGAN vanili dengan pola PHBM di kawasan hutan lindung wilayah RPH Tanjungkerta BKPH Tampomas itu, demikian Joko, sedikitnya kini telah melibatkan 200 petani penggarap anggota KTH di Desa Narimbang Kecamatan Conggeang dan Desa Naluk, Kecamatan Cimalaka, Sumedang, serta di Desa Padasuka, Kecamatan Cimalaka. “Seperti halnya dalam penerapan pola PHBM di lahan Perhutani lainnya, pengembangan vanili melalui PHBM di hutan lindung BKPH Tampomas pun, kami lakukan melalui konsep kerjasama saling menguntungkan antara masyarakat dengan Perhutani,” katanya.
Misalnya, dalam hal penanaman dan pemeliharaan, masyarakat bertindak sebagai pemberi kontribusi tenaga dan keahliannya. Sementara Perhutani bertindak sebagai pemberi lahan dan modal, termasuk pengadaan bibit, upah penanaman dan pupuk organik. Mengenai bagi hasilnya, demikian Joko, sesuai kesepakatan ditentukan, petani penggarap dan Perhutani masing-masing mendapat bagian 42,5% dari laba bersih. Sisanya, untuk desa sebesar 5%, dan 10% lagi untuk management fee(biaya administrasi).
Ditanya mengenai peluang pasarnya, Joko Sukrisno, menyatakan untuk produk vanili masih sangat terbuka luas. Bahkan, tuturnya, akhir-akhir ini pihaknya telah berulangkali dihubungi pengusaha dari negara Jepang yang menginginkan menjadi pembeli tetap dengan sistem kontrak terhadap produk buah vanili Tampomas. “Namun permintaan Jepang sementara ini tidak kami penuhi karena para petaninya menolak sistem kontrak,” ungkapnya, lalu menyebutkan hasil panen vanili Tampomas selama ini telah menjadi langganan atau dibeli oleh pengusaha vanili dari Klaten dan Provinsi Bali. (Nuryaman/”PR”)***


lihat juga cara membudidaya tanaman vanili

lihat sumber

budidaya bunga rosella

cara menanam bunga rosella



1. Persemaian
SebeLum disemaikan, biji direndam seLama satu hari satu malam LaLu dipilih yang tenggeLam dengan bentuk butiran - butiran yang baik. Biji dapat Langsung disemaikan pada Lahan persemaian yang sudah dioLah dan diairi. SeteLah tumbuh maka bisa Langsung dipindah ke ke poLybag ataupun menunggu cukup besar untuk Langsung dipindah ke Lahan produksi..


2.
Persiapan Lahan
Persiapan lahan dilakukan dengan pembajakan tanah secara membujur dan meLintang. Tanah dicampur pupuk dasar berupa pupuk kandang, Lahan diLarik dengan jarak antar Larik 1,5 m.

3. Penanaman
Untuk Lahan yang Langsung dari biji makan penanaman diLakukan dengan ditugaL tiap Lubang tanam diisi 2-3 biji. Sedangkan untuk penanaman bibit yang telah disemaikan di polybag maka setiap Lubang tanam diisi dengan 1-2 bibit.

4. Pemupukan
Pemupukan pada Lahan sebelum tanam dengan pupuk kandang, sedangkan pada umur 3 dan 7-8 minggu seteLah tanam dipupuk Urea sebanyak 30-40 gram tiap tanaman.



5. Hama dan Penyakit
Hama dan penyakit yang paling banyak menyerang roseLLe adaLah hama kutu daun dan penyakit Phytopthora. Penanganannya adaLah dengan penyemprotan obat anti kutu ataupun berbagai jenis pestisida yang dijuaL bebas di toko-toko pertanian.


6.
Pemeliharaan
SeLama pertumbuhan tanaman perLu diwaspadi keberadaan guLma yang akan berdampak negatif, oLeh karena itu diLakukan penyiangan dengan frekuensi sesuai kondisi Lahan.


7.
Panen
Tanaman roseLLe mulai menghasiLkan bunga pada umur 120 hari dan dapat dipanen secara terus-menerus daLam jangka waktu 3 buLan sebeLum akhirnya diganti dengan bibit baru. Per batang tanaman roseLLe dapat menghasilkan 1,5 kg bunga basah. Pemanenan menggunakan gunting untuk memotong tangkai bunga, kemudian diLakukan pemisahan biji. Untuk rendemennya daLam bentuk kering 10% sesudah dijemur di bawah terik matahari seLama 3-5 hari, yang akhrinya siap digunakan konsumsi pribadi ataupun dikemas untuk tujuan komersiaL.


8.
Produksi
Produksi tanaman roseLLe daLam keadaan normaL setiap hektar mampu menghasiLkan 2-3 ton keLopak bunga segar tanpa biji atau setara dengan 200-375 kg keLopak bunga kering.
Kandungan gizi keLopak bunga segar tiap 100 gram adaLah sebagai berikut:
- Protein 1,145 gr
- Lemak 2,61 gr
- Serat 12 gr
- KaLsium 1,263 gr
- Fosfor 273.2 mg
- Zat besi 8,98 mg
- MaLic Acid 3,31 %
- Fruktosa 0,82 %
- Sukrosa 0,24 %
- Karotin 0,029 %
- Tiamin 0,117 mg
- Niasin 3,765 mg
- Vitamin C 244,4 mg



dan harga jualnya pun menggiyurkan.




lihat sumbernya

harga bunga rosella



Petani Keluhkan Anjloknya Harga Rosela

Panen Rosela
Petani rosela di daerah Tegalkamulyan Cilacap memanen bunga rosela jenis ungu yang ditengarai paling tinggi angka peminatnya. Harga rosela kering saat ini hanya berkisar Rp. 50.000 hingga Rp. 70.000 per kg. harga tersebut terpaut jauh jika dibandingkan beberapa bulan lalu yang dipatok Rp. 130.000 per kg. Petani mengharapkan langkah pro rakyat dari pemerintah pusat agar produk rosela memiliki harga yang stabil selain juga mampu menembus pasaran luar negeri.
Puluhan petani rosela yang tersebar di Karesidenan Banyumas mengeluhkan anjloknya harga rosela kering dalam 1 bulan terakhir. Harga bunga rosela kering yang dipatok pada bulan ini hanya berkisar antara Rp 50.000 hingga Rp 70.000 per kg atau turun drastis dibanding bulan lalu yang mencapai Rp. 130.000 per kg. Ketidaktahuan petani akan tingginya angka permintaan bunga rosela kering dimanfaatkan sebagian pengepul untuk menekan harga di tingkatan petani.
Salah seorang petani di daerah Tegalkamulyan Cilacap, Jaeni Abdul Wahab mengeluhkan, anjloknya harga tersebut lebih disebabkan tindakan para pengepul yang memonopoli harga. Harga yang ditawarkan hanya mencapai Rp 50.000 per kg rosela kering jenis ungu sementara yang masih segar hanya Rp. 4.000 per kg non biji. “Dari seperempat hektar di satu periode panen, saya hanya mendapat 7 kuintal rosela basah. Jika dikeringkan, otomatis bobotnya susut menjadi 90 kg saja. Memang jika dihitung, saya masih tetap bisa mendapatkan laba, namun tidak sebesar panen yang lalu,” tutur Jaeni.
Dari pengakuan para petani, harga yang ditentukan oleh pengepul bervariatif. Rakum, salah seorang petani di Jatilawang Banyumas, mengaku memasok rosela kering jenis ungu dengan harga Rp 60.000 per kg pada akhir Mei lalu. harga tersebut sangat jauh berbeda jika dibandingkan pada awal 2008 yang masih berkisar antara Rp 180.000,- per kg. Sementara di Cilacap, harga yang ditentukan pengepul saat ini hanya sebesar Rp 50.000 per kg rosela kering atau lebih rendah Rp 10.000,- dibanding harga di Banyumas. Petani mengharapkan langkah pro rakyat dari pemerintah untuk mengatasi permasalahan ini baik pembinaan kepada petani untuk meningkatkan kualitas bunga selain juga membantu pemasarannya di pasaran luar negeri.
“langkah yang ditempuh pemerintah pusat sangat pro rakyat. Saya mengharapkan ada perhatian dan tindakan dari Bapak Presiden untuk menstabilkan harga sekaligus membantu pemasaran produk unggulan kami agar dapat bersaing di tingkat internasional. Kami bukan petani yang menekankan pada kuantitas tapi pada kualitas hasil sehingga tidak akan mengecewakan semua kalangan konsumen,” tutur Rakum.
Pihak Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kabupaten Cilacap, Suharyadi mengatakan, turunnya harga bunga rosela lebih disebabkan oleh tingginya stok bunga rosela di pasaran mengingat bulan ini adalah periode panennya. Walau demikian, pihaknya mengakui tidak tertutup kemungkinan adanya ulah pengepul yang menekan harga di kalangan petani. “Dalam waktu dekat kami akan melakukan dialog dengan para petani untuk menetapkan kisaran harga jual sehingga lebih stabil dan tidak dimanfaatkan oleh pengepul,” kata Suharyadi.


lihat cara budidaya bunga rosella
lihat sumbernya